T-SHIRT REVIEW: UNIQLO Dari Jepang Untuk Kita Semua.

Bagi para pecinta fashion atau para kaum urban di kota-kota besar, mengunjungi mall memang bukan lagi sesuatu yang mewah. Bahkan sudah menjadi kebiasaan. Toko pakaian dengan berbagai macam brands sudah menjadi langganan bagi para pengunjung, baik hanya untuk melihat-lihat saja atau memang berniat untuk membeli. Toko-toko tersebut dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian pengunjung, dan tentu saja merancang harga miring atau sale. Salah satu toko pakaian yang baru-baru ini merambah pasar Indonesia adalah UNIQLO. Perusahaan asal Hiroshima, Jepang, ini telah sukses menarik minat masyarakat kota besar, terutama Jakarta, dengan setiap produk yang ditawarkannya. Dapat dikatakan bahwa UNIQLO telah sukses memasuki pasar Indonesia maupun dunia dalam lingkaran gaya hidup.

uniqlo-1

Toko busana eceran ini bisa dikatakan sangat lengkap menjual segala sesuatu yang diperlukan seseorang untuk penampilannya, baik pria maupun wanita dan tentu saja anak-anak. Tiap bulannya pun UNIQLO mempunyai tema-tema khusus dalam menjual segala sesuatunya. Contohnya di saat summer, UNIQLO akan lebih mengedepankan pakaian-pakaian santai untuk liburan. T-shirt, celana santai, beach dress, dan lain-lain. Harga yang ditawarkan juga tidak terbilang mahal, standar untuk produk luar negeri. Di Indonesia terdapat 6 toko UNIQLO yang dapat dijumpai di mall-mall besar yakni di Mall Taman Anggrek, Mall Kelapa Gading, Lotte Shoping Avenue, Grand Indonesia, Gandaria City, dan Sumarecon Mall Serpong.
Tahun 1984, awal UNIQLO dibuka di Hiroshima, Jepang dengan nama “Unique Clothing Warehouse”.

Di tahun 1900-an perekonomian Jepang mengalami kemerosotan yang besar. Oleh karena itu pakaian UNIQLO yang murah dan nyaman digunakan pun sangat digemari. Tahun 1994, sepuluh tahun setelah gerai pertamanya dibuka, 100 gerai UNIQLO pun telah beroperasi. Tadashi Yanai, pemilik toko busana eceran ini, terinspirasi saat ia berkunjung ke Amerika Serikat, melihat koperasi sebuah universitas yang ramai dikunjungi remaja karena menjual pakaian yang berharga murah. Konsep toko UNIQLO pun terlintas, yakni “sebuah gudang raksasa dengan pilihan konstan”. Serta menurut pengakuan Yanai sendiri, UNIQLO tidak mengejar trend terkini. Sebaliknya, UNIQLO fokus pada pakaian-pakaian yang selalu dikenakan orang, tidak peduli waktu dan tempat. Strategi brilian dari Yanai ini pun menempatkan UNIQLO sebagai toko pengecer busana terbesar ke-4 setelah Gap, H&M, dan Zara di tahun 2012 versi Forbes.

Baju-baju santai dan kaos polos yang penuh warna memang menjadi ciri khas dari UNIQLO. Walau begitu di UNIQLO juga menjual pakaian semiformal untuk pria maupun wanita. Pakaian-pakaian semiformal tersebut tidak terbilang “ramai” dengan tambahan motif-motif, cukup dengan warna sudah menjadikan produk UNIQLO ini simple and classy. Sebut saja kemeja Oxford, t-shirt polos, kemeja jeans, dll. Tidak terlalu mengikuti trend, tetapi UNIQLO kerap dikunjungi banyak orang. Bukan hanya karena simple tetapi UNIQLO menawarkan busana yang kita butuhkan tiap harinya. So no wonder that UNIQLO is “dibuat untuk semua”. (RS)

Leave a Reply

Your email address will not be published.